Kamis, 18 Agustus 2011

HARMONY IN DIVERSITY


Harmony atau juga yang bisa diartikan adalah sebuah keserasian. Adalah suatu sikap dimana kita sebagai manusia yang merupakan pelaku utama, dapat berjalan bersisian dengan damai. Bergotong royong dan menekankan solidaritas diantara sesamanya, serta sikap saling menghargai untuk dapat hidup berdampingan secara damai. Keserasian juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang berjalan secara damai, tanpa konflik, dan sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku. Keserasian menghendaki lingkungan yang damai, hidup sejahtera, keharmonisan lingkungan, dan tentu saja jauh dari konflik.

Sementara itu, diversity yang berarti sebuah perbedaan. Adalah suatu sifat dimana segala sesuatu, bukan hanya manusia, pada hakikatnya diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Untuk itulaj segala sesuatu mempunyai nama masing – masing. Untuk menyatakan suatu identitas dan pengakuan dari lingkungan akan eksistensinya di dunia. Karena itu, identitas menjadi penting. Untuk mempermudah kita mengenali, dan membedakan satu dengan yang lain.

Keserasian dan perbedaan mungkin adalah dua sifat yang berbeda. Dimana sikap nyata dari kedua sifat tersebut, jika di nalar dengan kemampuan berfikir kita. Hanya akan menemukan jawaban nihil. Karena pada dasarnya, kesrasian dan perbedaan adalah dua hal yang bertentangan. Dan untuk membuatnya harmonis dan hidup saling bergantung. Itu adalah sebuah tantangan, nagi kita pelaku utama kehidupan di bumi. Menyelaraskan semua aspek, dan membuat keadaan yang jauh lebih baik dengan membawakan perdamaian.

Dewasa ini banyak kita lihat bahwa konflik ada dimana – mana. Dari perselisihan kecil hingga skala yang besar dengan dampak yang pastinya akan merugikan lebih banyak orang, contohnya rasisme. Keadaan ini membuat sebagian besar tidak bisa tinggal diam. Aktifis perdamaian berjamur dimana – mana. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang membutuhkan satu sama lain. Terlepas dari perbedaan warna kulit satu ras dengan yang lain.

Beberapa kelompok, menganggap ras mereka adalah ras yang unggul. Sama halnya seperti etnosentrisme ataupun kesombongan religius, sebagian ras yang menganggap mereka lebih unggul dari yang lain merendahkan ras – ras yang lain dan berlaku semena – mena hanya karena peradaban mereka lebih maju ataupun lebih kokoh dari yang lain. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan sebua teror untuk masyarakat terbelakang, dan membuat mereka semakin tertekan dan makin menghambat laju perkembangan mereka.

Untuk sebuah prospek kesatuan, Indonesia mungkin memiliki panutan yang layak untuk dicontoh. Karena sejarah telah mencatat bahwa dahulu, bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya dengan cara bersatu dari sabang sampai merauke. Bersatu demi kemerdekaan mereka bersama. Dan setelah cita – cita tersebut tercapai, rakyat Indonesia mengambil sumpah mereka bersama untuk setia kepada Indonesia. Akan bersatu membela tanah air. Dan tetao dalam kesatuan dibawah naungan Republik Indonesia. Sumpah tersebut terkenal dengan sumpah pemuda, yang diikrarkan oleh pemuda – pemuda indonesia, untuk menjaga persatuan dan rasa nasionalisme bangsa.

Perbedaan yang tadinya adalah suatu pemisah antara satu dengan yang lain. Yang membedakan manusia satu dengan yang lain, ternyata tidak akan berlaku ataupun berpengaruh pada sejarah Indonesia. Yang dibuktikan dengan merdekanya Indonesia dari penjajah Belanda karena usaha bersama. Dan tentunya, semangat sumpah pemuda.

Namun kenapa dikala, sejarah telah memberikan yang terbaik untuk generasi penerusnya. Makin banyak perpecahan diantara bangsa Indonesia. Gerakan pemisahan diri. Ataupun wilayah – wilayah negara Indonesia yang ingin merdeka dengan bendera mereka sendiri. Tawuran antar warga. Kerusuhan pelajar. Ataupun demonstrasi yang berakhir dengan ricuh. Mengapa, semangat persatuan sumpah pemuda yang begitu agungnya seakan akan tidak berarti lagi untuk Indonesia ? Ironisnya, sebagian banyak dari perpecahan tersebut dilakukan oleh pemuda pemudi Indonesia.

Begitu juga dengan kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia yang dikenal kaya regamnya, kini lambat laun mulai punah. Jarang digemari oleh masyarakat Indonesia sendiri. Karena sayangnya masyarakat Indonesia lebih menghargai budaya asing daripada budaya sendiri. Memang benar, sekarang adalah zaman globalisasi yang menyebabkan batas antara negara telah menjadi semu. Dan disaat seperti ini, budaya – budaya asing dengan mudahnya masuk Indonesia. Dan seperti ciri khas bangsa Indonesia, dan seperti yang seharusnya 'persatuan' ajarkan untuk tidak membeda bedakan budaya satu dengan yang lain, masyarakat Indonesia dengan baik menerima kebudayaan asing yang masuk. Namun, disinilah ancaman dari sikap menghormati dan menghargai yang berlebihan. Karena dititik paling berbahaya, sikap menghargai dan menghormati tersebut akan menyebabkan kita menjadi terlalu baik dan lupa akan jati diri kita sesungguhnya.

Indonesia kehilangan banyak sekali kebudayaannya. Entah karena sengaja maupun tidak sengaja. Dan semua itu disebabkan oleh masyarakat yang salah mengartikan dan menempatkan sifat 'menghargai dan menghormati'. Mereka salah tempat dalam mengapreasikan sikap 'persatuan dan menghilangkan perbedaan'. Padahal sesungguhnya, sikap persatuan dan meleburkan perbedaan itu dilakukan tanpa menghilangkan jati diri sendiri. Karena jika kita kehilangan jati diri, bukan peleburan perbedaan yang terjadi. Melainkan kita kembali terjajah dengan kebudayaan asing.

Bahasa dan kesenian merupakan media untuk memperkuat solidaritas dan mengingatkan jati diri kita sendiri. Walaupun kini kesenian banyak ditinggalkan dan bahasa Indonesia mulai tergeser oleh bahasa Inggris. Mengingatkan kita utnuk kembali pada semangat sumpah pemuda.

Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Menyelamatkan kebudayaan Indonesia dan melestarikannya. Dan menghormati serta menghargai budaya asing yang masuk, tanpa kehilangan jati diri.

Karena perbedaan bukan sesuatu yang mengharuskan kita bercerai berai. Perbedaan adalah untuk disatukan. Namun persatuan tidak boleh menghilangkan jati diri kita sendiri. Karena arti sesungguhnya dari persatuan adalah untuk menghargai dan menghormati, bukan untuk kehilangan jati diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar